Dalam sejarah Tsauban adalah lelaki yang dikenal sebagai pembantu Rasulullah ﷺ. Dia tidak termasuk dalam tokoh-tokoh fathu mekkah yang diabadikan dalam sejarah. Juga tidak termasuk dalam barisan orang mukmin yang disiksa dijalan Allah SWT, seperti Ammar, Bilal. Dia bukan dari golongang para penyair dimasa Rasulullah ﷺ seperti Hasan bin Tsabit.
Dia seorang
pembantu terpercaya. Rendah hati dihadapan banyak orang yang hidup dijaman Nabi ﷺ dimana mereka
memiliki kehormatan dan nama baik, mereka memiliki banyak kedudukan dan potensi
besar dalam menggelar hukum islam, menyebarkan dan menjelaskannya.
Sementara
Tsauban hanyalah seorang pembantu biasa,
yang melaksanakan tugas dari Rasulullah ﷺ, tetapi meski demikian didalam diri
Tsauban terdapat sifat khusus dan terpuji, yang mengabadikan dirinya dalam
sejarah, menjadi di antara yang termasuk dibicarakan dalam ayat Al quran dan
melalui mereka, kamu muslimin beroleh pelajaran yang berharga.
Tsauban lah
yang merasakan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ memiliki simpanan besar yang
melebihi harta kekayaan harta, emas dan perak, yaitu kekayaan cinta kepada
Rasulullah ﷺ
Mengapa
Tsauban mencintai Rasulullah ﷺ? Mengapa cinta ini lahir? Dia mencintai
Rasulullah ﷺ karena Rasulullah ﷺ memberinya hidayah kepada iman dan
mengeluarkannya dari kegelapan jahiliah kepada cahaya islam
Dengan dakwah
Rasulullah ﷺ dia menjadi seorang mulia disisi Allah SWT, melalui Rasulullah ﷺ
dia dapat mewujudkan insaniahnya. Mencapai ketinggian amal dan pikiran.
Menemukan eksistensinya dan manusia yang dicintai Allah SWT.
Karena
Rasulullah ﷺ Tsauban berjalan diatas bumi dengan lurus dan prilaku, pikiran dan
langkahnya. Tsauban mencintai Rasulullah ﷺ dan menaati perintah-perintah Allah
SWT. Melaksanakan sholat, puasa, haji dan semua kewajiban sesuai kemampuan. Dia
ikuti dan laksanakan perintah-perintah Rasulullah ﷺ. Sebagaimana halnya
orang-orang awam lainnya di jaman kita. Tetapi, Tsauban yang hidup bersama
Rasulullah ﷺ kini mengenal kedudukan yang tinggi bersama para Nabi. Bersama
Ibrahim, Musa, dan Isa. Bersama golonngan ini dan para duta Rasulullah ﷺ di
akhirat. Rasulullah ﷺ akan berada di syurga tertinggi bersama Ulul Azmi. Berada
di derajat tertinggi dan jauh diatas maqam Tsauban. Antara dia sang pembantu
dan Rasulullah ﷺ yang agung.
Tsauban
memikirkan dirinya yang terpisah dengan Rasulullah ﷺ, bagaimana jika dia
terhijab dalam melihat Rasulullah ﷺ, dapatkah dia bersabar tidak melihat
Rasulullah ﷺ?, kuatkan dia berpisah dengan orang yang dicintainya, yang menguasai
diri dan seluruh kehidupannya.
Tsauban
berpikir lama sampai lelah, Rasanya terampas sudah kehidupan indahnya. Segenap
dunianya berubah menjadi sebutir pasir. Dunia gelap dimatanya. Tenggelam tak
sadarkan diri dalam membayangkan bahwa dia akan terhalang untuk melihat sang
kekasih, Rasulullah ﷺ, dia adalah seorang pelayan yang sangat mencintai
Rasulullah ﷺ, manusia teragung disisi Allah SWT
Pada suatu
hari, Tsauban datang dengan kondisi yang tak sempat diketahui Rasulullah ﷺ,
tidak seperti biasanya. Dia telah berubah, badannya mengurus. Orang yang
melihat kondisinya akan mengatakan dia sakit dan perlu pertolongan dokter. Orang
yang melihatnya akan langsung bertanya, Apakah engkau baik-baik saja? Apa yang
menyebabkan engkau sakit?. Dalam kondisi seperti itu, Rasulullah ﷺ melihat wajah
yang mengundang belas kasih beliau terhadapnya. Maka Rasulullah ﷺ langsung
bertanya, “Hai Tsauban, pucat sekali engkau!”
Tsauban menjawab
diluar keadaan yang sebenarnya. Mestinya dia menjawab,”Aku jatuh sakit.” Tetapi
jawabannya sangat sederhana dan tanpa bermaksud dusta, dia berkata, “Wahai Rasulullah
ﷺ aku tidak sakit.”
Badanku sehat
wal afiat. Penyakit belum menggerogoti tubuhnya. Tetapi, “jika aku tidak
melihat Engkau, aku merindukan Engkau sampai aku bertemu denganmu. Lalu,
terlintas alam akhirat dalam pikiranku, aku tidak dapat melihat engkau disana
ya Rasulullah ﷺ. Karena aku tahu engkau berada dimaqam tertinggi bersama para
nabi. Jika aku masuk surga, tentu aku berada dimaqam lebih rendah darimu. Apalagi
jika aku tidak masuk surga, tentu aku tidak akan bertemu denganmu selamanya ya Rasulullah
ﷺ
Cita-cita
Tsauban adalah selalu berada disisi Rasulullah ﷺ, sang kekasih. Menyimak sabdanya,
senang dengan kehadirannya. Menimba ilmu darinya, menyejukkan mata dengan
memandang sang wajah yang diberkahi. Bersama Beliau merasakan naungan dan kasih
sayangnya.
Allah SWT
mengetahui kesungguhan Tsauban dalam cita-citanya. Maka, Allah SWT
menganugerahi keutamaan dan kemuliaan dengan menempatkan dia bersama para Nabi,
Syuhada, orang-orang jujur dan sholeh. Untuk menghibur hatinya,
Allah SWT
berfirman :
“Dan barang
siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah SWT, yaitu pada Nabi-nabi, para
shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan mereka
itulah teman sebaik-baiknya. “
Dengan
demikian Tsauban masuk kejantung sejarah. Dia memberikan kepada kita pelajaran
yang tinggi. Mengajarkan kepada kita bagaimana bersama para Nabi. Bersama Rasulullah
ﷺ, berkumpul bersama beliau, maka kita harus menaati Allah SWT dan Rasul-Nya. Kita
taati semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya. Tsauban mencintai Rasulullah
ﷺ maka dia menaati perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Ungkapan taat dalam ayat
tersebut adalah konsekuensi cinta yang menjadi sebab turunnya ayat. Karena siapa
saja yang mencintai, maka berarti dia menaati, “Sesungguhnya pecinta itu
menaati orang yang dicintanya.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Demi
dzat yang diriku ditangan-Nya, tidak beriman seorang hamba sampai aku menjadi
orang yang paling dicintainya, lebih dari diri, keluarga dan anaknya, serta
seluruh manusia”
Rasulullah
ﷺ benar!, Dengan beliau kita mendapati kehidupan yang hakiki, hidayah,
keselamatan dan kesuksesan kita dengan syurga. Semoga Allah SWT menjadikan kita
termasuk pecinta Rasulullah ﷺ, menaati beliau dan melangkah diatas jalannya.
Buku Asli: Ayatun Wa qishshah (Kisah-kisah Rasulullah ﷺ)
Karya : Abbas Alwi
al-Musawi

EmoticonEmoticon